Jumat, 29 Mei 2009

Fieldtrip Ke Hutan Mangrove

Pada hari Kamis tanggal 6-9-2007 , murid-murid kelas 6 SD Islam Al-Azhar 01 mengadakan fieldtrip ke hutan Mangrove di Pantai Kapuk, Jakarta Utara. Kami naik bus yang dibagi menjadi lima kelompok. Saya termasuk dalam kelompok bus 5.

Sampai di sana kami dibagi lagi menjadi 10 kelompok. Waktu sedang berbaris kami tiba-tiba melihat 6 ekor monyet, tetapi mereka jinak dan tidak menggangu. Kami diberi pengarahan oleh petugas di sana. Kemudian kami naik bus lagi dan dibagi menjadi 2 kegiatan, yaitu: menanam bibit bakau dan mengunjungi hutan bakau.

Pertama kelompok saya melakukan kegiatan menanam bibit bakau. Di sana tempatnya berlumpur dan bau sehingga kita mengalami kesulitan untuk menanam. Untungnya kita diberi sarung tangan sehingga tangan kita tidak kotor.

Setelah itu kami mengunjungi hutan bakau, di sana kami diberi LK (lembar kerja) untuk diisi. Kami diberi penjelasan tentang pohon bakau dan tanaman lainnya serta hewan-hewan yang hidup di dalam hutan bakau.

Setelah selesai melakukan kegiatan di sana kami kembali ke sekolah kira-kira jam 12.30 . Saya sangat senang dengan kegiatan di hutan bakau karena seru dan dapat menambah pengalaman serta ilmu pengetahuan.

Wisata Kuliner dan Alam

Wisata Kuliner di Yogyakarta

Berwisata ke suatu tempat belumlah lengkap tanpa mencicipi makanan khas daerah itu. Kadang-kadang sepiring hidangan dapat bercerita banyak hal tentang kehidupan masyarakat setempat; mulai dari selera, budaya, hingga semangat hidup mereka.
Melalui rangkaian liputan di bawah ini, kami mengajak anda untuk bertamasya lidah sekaligus melihat dari dekat potret kehidupan sehari-hari kawula Yogyakarta. Lokasi tempat makan yang kami liput ini memang tak selalu mudah ditemukan. Namun hal itu malah akan memberikan kepuasan tersendiri saat anda berhasil mencapainya, ditambah lagi harganya yang murah tak terkira. Berwisata kuliner di Yogyakarta akan membuat lidah anda bergoyang... zonder bikin kantong bergoncang.
1. BAKMI SHIBITSU - Ketika Bakmi Bisu Membuat Anda Kehilangan KataBakmi Shibitsu menghadirkan pengalaman membisu ganda saat mencicipnya. Penjual yang bekerja tanpa kata menyiratkan etos kerja keras dan rasa bakmi yang sanggup membuat anda kehilangan kata singgah ke lidah.
Jika anda adalah salah satu penggemar berat bakmi, ketika sedang berada di Yogyakarta cobalah untuk mampir mengunjungi warung makan bakmi Shibishu yang terletak di Jalan Raya Bantul No.106. Tempat ini dapat ditempuh sekitar lima menit dari Malioboro, tepatnya 500 meter selatan Pojok Beteng Kulon. Jangan terkecoh oleh namanya yang agak berbau Jepang, bakmi ini dimiliki oleh orang Yogya asli dan sudah beroperasi sejak 25 tahun lalu.Warung makan ini adalah yang paling banyak dikunjungi dibandingkan warung-warung makan lain yang ada di sekitarnya.
Bakmi ini terbuat dari dua jenis mi, yakni mi kuning dan bihun. Kemudian dilengkapi dengan potongan-potongan kecil daging ayam dan seledri. Suapan pertama ketika mencoba bakmi bisu ini membuat saya hampir kehilangan kata. Bumbu yang menyelimuti bakmi ini amat terasa tebal dan meresap ke dalam mi.
2. NASI GORENG BERINGHARJO - Kelezatan Kuliner Jawa CinaMenikmati Nasi Goreng Beringharjo sama dengan mendengar sepiring cerita seputar perpaduan budaya Jawa Cina di Indonesia, terutama soal kuliner, bukan cuma kelezatannya saja.
Nasi Goreng Beringharjo, kini bisa dijumpai di Jalan Mataram, tepat di pertigaan ketiga sebelah kiri jalan yang menuju ke pasar bersejarah di Yogyakarta itu. Sebelum penghujung tahun 2004, tepatnya sebelum ada pembersihan pedagang kaki lima di wilayah tersebut, nasi goreng itu bisa ditemui di pertigaan menuju kawasan Shopping yang kini dirombak menjadi Taman Pintar, Taman Budaya Yogyakarta dan Pusat Penjualan Buku.
Adanya berbagai variasi nasi goreng, mulai nasi goreng ayam, nasi goreng sea food, nasi goreng kambing, bahkan nasi goreng pete yang notabene bumbu khas Indonesia. Rasanya pun bermacam-macam, ada yang lebih menonjolkan citarasa bawang putih, ada pula yang menonjolkan citarasa bahan tambahannya, misalnya ayam. Nasi goreng Beringharjo memilih memasak nasi goreng ayam dan babi.

Wisata Alam di Jawa Timur
Tanjung Papuma, letaknya dekat dengan Watu Ulo (Area Pantai Selatan Kota Jember, Jawa Timur).
Berbeda jauh dengan Pantai Watu Ulo yang berpasir hitam, Tanjung Papuma ini lebih mirip disebut teluk yang berpasir putih, alhasil air laut yang pasang dan surut ini sangat jernih.Keindahan pantai ini dilengkapi dengan batu-batu alami yang menjorok di laut. Sungguh sangat indah dan mengingatkan saya pada pemandangan di Halong Bay, Vietnam. Batu-batu itu seakan-akan menghiasi pantai itu sebagai pernak-pernik yang semakin mempercantik pemandangan ini. Deretan kapal-kapal berwarna-warni pun menyemarakan indahnya p

Robin Hood Dialogue

Audi : Little John and Narrator
Hafizh : Bishop and Narrator
Rama : Robin Hood

________________________________________________________________________


Narrator: Robin Hood was born at Locksley, in the county of Nottingham, in the reign of King Henry II and about the year of Christ 1160. One day, Robin Hood, Litle John, and friends were waiting for the Bishop of the Hereford came by. They wanted to robb him of his gold.

Robin Hood: “Come! Kill me a venison!.
And put it by the highway side.
We will watch the Bishop narrowly,lets some other way he should ride.”

Narrator: Robin Hood dressed himself in Shepherd’s attire, with six of his men also. And, when the Bishop of Hereford came by, they caught him.

Bishop: “O, what is the matter? Who are you? Why did you kill the King’s venison?”

Robin Hood: “We are shepherds. We keep sheep all the year. And we are disposed to be merry this day, and to kill of the King’s fat deer.”

Bishop: “You are brave fellows”

Narrator: Robin set his back against a tree and his foot against a thorn.And from under neath his shephred’s coat, he pulled out a bugle horn. He put the little end to his mouth, and a loud blast did he blow. Till threescore and ten of Bold Robin’s men came running all in a row.

Little John: “What is the matter, master? That you blow so lustily?”

Robin Hood:”O, here is the Bishop of Hereford.”

Little John: “Cut of his head, master. And throw him into his grave.”

Bishop: “O, pardon. O pardon”

Robin Hood:”No pardon. No pardon.”

Little John: “Give me your purse, master. And I will let you go.”

Narrator: Then Little John took the Bishop’s cloack, and spread it upon the ground, There was three hundred pound.

Little John: “Here’s money enough, master. It makes me in Charity with the Bishop.”

Narrator: Robin Hood took the bishop by the hand,And he caused the music to play;And he made the old bishop to dance in his boots,And glad to get so away.





Vocabularies:- Venison = Rusa, Kijang
- Bishop = Uskup/Mentri
- Shephred = Pengembala
- Disposed = Ingin
- Bugle = Terompet
- Bold = Pemberani
- Grave = Kuburan
- Lustily = Begitu Bernafsu
- Cloak = Jubah atau Mantel


Groups:
-Hafizh Auditama/7B/20
-Izza Hafizh Hilmi/7B/24
-Taufik ramadhanu/7B/39

Sejarah Penyebaran Islam di Indonesia

Menurut catatan sejarah, kerajaan Perlak yang berdiri tahun 840 M adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Tentang fakta itu dapat dipastikan bahwa masuknya agama Islam terjadi jauh sebelum tahun berdirinya kerajaan itu, karena kerajaan itu didirikan ketika sebagian besar penduduknya telah cukup lama memeluk agama Islam. Pada abad IX Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad konon mengirimkan delegasi dakwah yang terdiri dari orang-orang Arab yang berakidah Ahlussunnah wal Jama’ah, bermazhab Syafi’i dan bertashawuf mu’tabar ke wilayah Sumatera Utara. Pada tahun 1042, berdiri kerajaan Islam Samudra Pasai. Menurut Ibnu Bathutah, kerajaan ini, dengan raja pertamanya Al-Malikus Shaleh, menganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah dan memilih mazhab Syafi’i.

Meski tidak ada catatan yang pasti, diperkirakan kalau Islam masuk ke Pulau Jawa pada akhir abad XIV atau awal abad XV. Ini antara lain dapat dibuktikan dengan tulisan di batu nisan Maulana Malik Ibrahim tentang tahun wafatnya, yakni tahun 1419 M, setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, yang beragama Hindu. Di awal abad XV, dengan dukungan Walisongo, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam Demak. Dalam penyebaran agama Islam, cara berdakwah para wali yang jumlahnya sembilan orang itu, dirasa sesuai dengan sifat dan pembawaan masyarakat Jawa, sehingga dalam waktu yang relatif singkat hampir seluruh masyarakat Jawa memeluk agama Islam. Setelah Demak, berdiri beberapa Kerajaan Islam di Ternate, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara pada abad XVI, sehingga agama Islam menjadi agama yang dianut mayoritas penduduk nusantara.
Ada beberapa faktor pendukung bagi cepatnya penyebaran Islam di bumi nusantara.

Pertama, sebagai agama tauhid (tawhîd), Islam menampilkan manusia dalam kedudukan yang sama (musâwah) dan bebas dari penghambatan sesama makhluk (hurriyyah). Prinsip tauhid ini merupakan ajaran yang sama sekali baru yang menarik dan membebaskan manusia dari belenggu lama yang membagi manusia ke dalam kelas-kelas.

Kedua, watak Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat telah membentuk perilaku dan sikap para penyebar Islam. Seperti diketahui, para wali dan penyebar Islam di nusantara adalah penganut Ahlussunnah wal Jama’ah yang teguh. Dengan penuh kearifan, dakwah mereka lakukan secara tadrîj (evolusi) dan sejauh mungkin memperkecil beban yang bisa dirasakan masyarakat (taqlîl al-takâlif).

Ketiga, Islam dapat menjadi agama rakyat karena disampaikan dengan penuh kedamaian dan menghormati tradisi dan nilai secara arif berdasarkan prinsip-prinsip:1. Nilai lama yang secara diametral bertentangan dengan akidah disikapi dengan cara menolaknya secara argumentatif.2. Nilai lama yang tidak sesuai dengan syari’at diluruskan secara bertahap.3. Nilai lama yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam dibiarkan terus keberadaannya dan diberikan nafas Islam.

Perkembangan Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah bertambah pesat ketika generasi penerus Walisongo dan penyebar Islam lainnya mengembangkan strategi dan pendekatan penyebaran Islam melalui lembaga pesantren. Pesantren tampil dan berperan sebagai pusat penyebaran dan pendalaman agama Islam secara lebih terarah

Pada pertengahan abad XIX kontak langsung antara umat Islam di nusantara dan dunia Islam lainnya, termasuk umat Islam di negara-negara Arab, mulai terbuka. Sebelumnya karena kepentingan politik penjajah Belanda, hal itu sulit dilakukan. Kontak dengan dunia Islam itu bukan saja melalui jama’ah haji ke Tanah Suci, tapi juga melalui sejumlah pemuda nusantara yang belajar di negara-negara Arab. Banyaknya literatur di pusat studi Islam di Timur Tengah, telah memungkinkan para pelajar dari Indonesia mencapai tingkat pengetahuan yang lebih luas dan pandangan yang lebih terbuka.

Di antara para pelajar dari nusantara adalah KH. M. Hasyim Asyari, KH. A. Wahab Hasbullah dan KH. M. Bisri Sansuri. Ketiganya belajar di Makkah saat ide Muhammad Abduh dan paham Wahabi sedang gencar-gencarnya diperbincangkan dan disebarluaskan.

Dibawah ini adalah beberapa masjid peninggalan islam:
- Masjid Cinana
- Masjid Al-arbor
- Masjid Jamiek Romo

Dibawah ini adalah beberapa tokoh islam:
- Siti Binti maimum
- Nyai Sruni
- Sayaid Sarif
- Sayid Djalal

OUTBOUND BERSAMA TEMAN BARU

Pada hari Minggu sebulan yang lalu, aku diikut sertakan oleh ibuku untuk mengikuti kegiatan outbound di daerah Ciawi yang diadakan oleh kantor ayahku, agar aku lebih percaya diri,lebih mandiri dan dapat bersosialisasi dengan teman-teman yang baru. Pertama-tama para peserta disuruh berkumpul di lapangan upacara kantor ayahku, di situ aku sama sekali tak mengenal peserta lain.

Akhirnya pada saat akan berangkat ke tempat tujuan ada yang menyapaku. Aku tidak mengenal siapa dia, tetapi dia tahu aku sekolah di Labschool Kebayoran.Ternyata dia kak Aldi siswa Labschool Rawamangun, aku pun langsung memperkenalkan diri, lalu menuju bis bersamanya, kebetulan dia terdaftar dalam satu bis denganku.

Sampai di tempat tujuan, kami berkumpul di saung untuk diberi pengarahan. Setelah itu kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Sayangnya aku tidak sekolompok dengan kak Aldi, tetapi kelompokku orangnya asyik-asyik dan lucu lagi. Setelah dibagi-bagi kelompok, kami diberi misi dalam bentuk permainan, jika berhasil menyelesaikan setiap permainan akan diberi petunjuk untuk memecahkan teka-tekinya. Jenis permainannya ada beberapa macam,ada permainan yang lucu dan ada juga yang menegangkan seperti “Flying Fox”. Alhamdulillah kami dapat memecahkan teka-tekinya dengan baik,tapi hal ini harus dirahasiakan,kelompok lain jangan sampai tahu karena kami berkompetisi dengan kelompok lain.

Sekitar pukul lima sore,selesailah semua permainan.Setelah itu kami bersih-bersih diri dan makan malam. Dan akhirnya sampailah pada puncak acara,yaitu api unggun. Di sini kami diberi satu permainan lagi yaitu permainan angklung.Seluruh peserta memainkan beberapa lagu dengan dipandu oleh kakak Pembina.

Pengalaman mengikuti outbound ini sunggguh mengesankan bagiku,di sini aku belajar bagaimana cara bekerjasama dalam menyelesaikan masalah,aku jadi lebih mandiri dan percaya diri dan aku mendapat banyak teman baru.

PIDATO

Assalamua’laikum wr.wb.

Yth Bu Juju dan teman-teman yang tercinta

Pada kesempatan ini saya ingin membahas mengenai masalah pedagang kaki lima. Seperti kita lihat di sekitar kita jalan mulai dipenuhi para pedagang kaki lima yang menyebabkan jalanan menjadi sempit dan macet,terutama jalan-jalan di sekitar pasar dan terminal. Keberadaan pedagang kaki lima ini semakin hari semakin meresahkan dan terasa menggangggu ketertiban dan keindahan kota karena membuat pemandangan menjadi semrawut.

Di lain pihak keberadaan pedagang kaki lima ini,oleh sebagian besar konsumen terutama dari kalangan ibu-ibu banyak diminati karena selain harganya lebih murah dibandingkan dengan di toko atau di dalam pasar itu sendiri, juga lokasinya yang strategis,mudah dijangkau karena ada di pingggir jalan sehingga konsumen tidak perlu masuk ke dalam pasar.Harga yang ditawarkan pedagang kaki lima bisa lebih murah karena mereka tidak membayar pajak atau retribusi.Sehinggga hal ini sebenarnya merugikan pihak Pemda,dan merugikan pedagang yang berjualan secara legal di dalam pasar.

Sebenarnya pemerintah sudah sering menertibkan mereka tetapi selalu muncul lagi, mungkin karena masalah ekonomi. Di satu sisi mereka perlu untuk menghidupi keluarga dengan berjualan, tetapi di sisi lain mereka tidak mampu untuk menyewa tempat yang resmi sebagai tempat berdagang.

Sebagai jalan keluarnya pemerintah sudah menyiapkan lahan atau tempat berjualan bagi mereka, tetapi para pedagang kaki lima itu merasa lokasinya kurang strategis, sehingga mereka takut hasil penjualannya berkurang. Pada akhirnya diperlukan kesadaran dan disiplin dari para pedagang kaki lima juga dari para konsumen agar bersama-sama menjaga ketertiban dan keindahan lingkungan dengan tidak berjualan di pinggir jalan dan bagi konsumen agar membiasakan diri belanja di tempat yang sudah disediakan.Apabila himbauan pemerintah tidak dihiraukan,maka sudah saatnya pemerintah mengambil tindakan tegas kepada para pedagang kaki lima tersebut,misalnya dengan mengenakan sanksi hukum agar mereka jera.


Sekian dari saya Wassalammua’laikum wr.wb.

Lima Sekawan

Lima Sekawan
KARANG SETAN


Alkisah ada empat orang besaudara yaitu George, Dick, Julian, Anne, dan Timmy, seekor anjing piaraan George.Ketika itu mereka sedang liburan, rencananya mereka akan menginap di rumah George, akan tetapi rumah George akan kedatangan tamu yang akan menginap di rumahnya selama beberapa hari, mereka adalah Professor Hayling dan anaknya Utik, Profesor Hayling adalah teman ayah George, mereka akan meneliti sesuatu, sehingga tidak bisa dibatalkan kedatangannya.

Sebenarnya ibu George tidak setuju, kerena tidak mau mengganggu liburan mereka, ketika George sampai di rumahnya ia bertemu dengan seorang anak laki-laki dan monyetnya, mereka adalah si Utik,anak Professor Hayling dan si Iseng, mereka memang sangat usil dan tidak bisa diam, tetapi lama-lama mereka bisa menjadi baik dan diam setelah di marahi oleh ayahnya.Kedua ilmuwan itu perlu suasana tenang, mereka tidak mau ada gangguan sedikit pun.

Lalu akhirnya mereka berunding bersama ibu George, akan menginap di mana anak-anak selama libur.George pun punya ide, mereka akan meginap di pulau Kirrin, tetapi ibu George melarang, karena melihat situasi cuaca belakangan ini sangat buruk, ibunya takut mereka celaka. Utik pun langsung muncul ide, ia akan mengajak mereka ke Mercusuar tua pemberian ayahnya, mercusuar itu ada di tempat karang dan di situ ada sebuah gua, menurut dongeng didalam gua itu ada harta karun sisa para pencoleng. Merekapun tertarik untuk menginap di sana,ibunya George pun setuju.

Lalu mereka membuat rencana dan akhirnya berangkat,mereka harus naik perahu jika ingin sampai, tetapi mereka harus melewati rintangan dahulu, yaitu gosong karang, disitu ada bebatuan runcing, jadi mereka harus hati-hati. Dan akhirnya sampailah mereka ke mercusuar itu, mereka langsung mengatur tempat lalu makan malam, keesokannya mereka mengatur kegiatan ,mereka akan berbelanja membeli pangan dan mencari kakek ayah pak sopir namanya Jeremiah Boogle, agar bisa menceritakan tentang mercusuar ini dan pencoleng-pencoleng pada zaman dahulu.

Setelah berbelanja mereka mencari Jeremiah Boogle dan akhirnya ketemu. Mereka minta diceritakan tentang mercusuar ini, ia pun mau menceritakannya, katanya dulu belum ada mercusuar, tetapi sudah ada karang setan, jika ada kapal yang terjebak disitu tidak akan bisa keluar dan akan hanyut kapalnya, lalu di atas tebing ada seorang laki-laki tua yang jahat, ia hidup bersama anaknya dan keponakannya yang sama jahatnya. Orang tua itu dijuluki One-Ear Bill, anaknya Nosey dan keponakannya Bart. Jika ada kapal yang terjebak di Karang Setan mereka langsung merampok harta di kapal yang terjebak itu. Setelah mendengar cerita itu mereka kembali ke Mercusuar.

Saat kembali ke mercusuar, si Utik baru ingat bahwa ada peta kuno yang disimpan ayahnya, ketika dilihat peta itu berisi gambar denah mercusuar. Di Gambar itu ada sebuah fondasi, mereka langsung mengeceknya, ternyata dibawah itu ada air berputar-putar, rupanya ada lorong yang berhubungan dengan laut, melihat itu mereka terkagum-kagum.

Keesokan harinya mereka pergi ke Gua Pencoleng bersama paman Jeremiah Boogle, mereka sampai di gua pertama, disitu dingin dan lembab, lalu di gua kedua mereka bertemu Ebinezer yang sedang melayani wisatawan, ia adalah keturunan One- Ear Bill, orangnya galak. Ketika sedang melanjutkan perjalanan si Iseng hilang mereka tak tahu dimana kerena dari tadi monyet itu berlari-lari terus, tiba-tiba sesuatu loncat ke pundak Utik, ternyata itu si Iseng yang membawa sesuatu benda yang sedikit berkilau, tidak disangka ternyata itu adalah uang emas, sehingga mereka tertarik untuk memeriksa lebih dalam, tetapi air pasang naik dan badai akan datang, jadi mereka harus kembali ke mercusuar.

Selama di mercusuar mereka memikirkan terus harta karun itu. Keesokan paginya mereka ingin kembali ke gua itu, tetapi tiba-tiba pintunya tidak bisa dibuka, rupanya ada seseorang yang mengunci pintu dari luar sehimgga mereka terkurung. Mereka kebingungan dan ketakutan, karena mereka hampir kehabisan bahan pangan sudah begitu di situ tidak ada telepon. Julian pun cepat-cepat mencari akal, ia beserta Dick akan masuk ke lubang fondasi kerena ada terusan mungkin itu jalan keluar. Ketika sedang menyelidiki lorong ini Julian mulai ingat dengan tampat ini,lalu tiba-tiba ada uang emas jatuh dari atas,mereka ambil beberapa keping lalu segera keluar, tetapi ada yang menghadang mereka, mereka adalah Ebinezer dan Jacob ia juga keturunan One-Ear Bill mereka mengancam Julian dan Dick, jika tak memberi tahukan letak harta itu, mereka akan menyesal. Julian langsung mendorong mereka disusul Dick dan akhirnya bisa kabur ,mereka kembali ke mercusuar. Karena air laut sudah pasang, rencana mereka untuk keluar dari situ gagal.

Utik pun mengeluarkan akalnya ia akan menggunakan lampu suar dan lonceng. Ternyata berhasil, paman Jeremiah dan penduduk desa mendengar dan melihat sinar lampu dari mercusuar. Keesokan harinya mereka segera ke sana dan menolong mereka, mereka menceritakan semua kejadian yang dialaminya dan bahwa mereka menemukan harta karun. Kemudian mereka membantu polisi untuk menemukan lokasi harta karun itu, setelah semuanya selesai mereka kembali ke rumah George.

Pengarang: Enid Blyton
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama